Skip to main content

Hakekat kemainstreaman Gus Dur


HAKIKAT KEMAINSTREAMAN
       Perkembangan bahasa di era globalisai ini, khususnya di kalangan anak muda begitu dinamis dan produktif, mereka anggap sebagai "trend" masa kini, sekaligus ajang menunjukan keeksisannya. Jumlahnya lumayan banyak, sampai lupa harus menghitunganya. Jenisnya juga beragam dari mulai bahasa serapan, singkatan, dan ragam fonologi. Misalnya saja seperti on the way, get well soon, narsis, baper, caper, kepo, jones, unyu, alay, galau, PJ, COD, PHP, geje, LOL, LDR, mainstream, dan masih banyak lagi. Kata-kata ini biasa mereka ucapkan dalam percakapan verbal maupun non verbal. Bahkan tidak asing terdengar di telinga kalangan yang lebih tua. Namun penggunanaan kata-kata diatas cenderung berkonotasi pada hal asmara, kebiasaan berkomunikasi , dan transaksi jual beli saja, tidak lebih. Padahal salah satu kata tersebut berimplikasi pada makna yang rekonstruktif.
      Marilah fokus pada penyebutan kata terakhir, yakni "mainstream". Sebenarnya tersimpan sebuah makna yang patut untuk kita analisis, makna katanya selama ini yang dipahami kurang lebih adalah hal-hal yang dilakukan masyarakat pada umumnya.
Mari kita simak makna lain dibalik kata tersebut. Dalam bidang ekonomi, ada seorang penjual di salah satu negara menempatkan rumah makan di depan air terjun. Dalam bidang sosial, ada salah satu institusi yang menerapkan upah di bawah rata-rata sebagai timbal balik jasanya. Dalam bidang politik, seorang figur politik menerapkan sistem blusukan, sebagai upaya pengawasan kepada aparatur negara. Dalam bidang agama, ada beberapa tokoh agama mensyi'arkan risalah tuhan kepada golongan yang berbeda keyakinan dan akidahnya. Dalam bidang pedalangan, ada juga seorang dalang yang keluar dari jalur (pakem) tradisi umumnya pertunjukan wayang.Bahkan pada sampai hal psikis, misalnya kecendrungan anak yang memilik kecerdasan dan inspirasi brilian, justru seolah- olah berrindak semaunya sendiri, di cap nakal oleh teman sebaya, lingkungan, bahkan orang tuanya. Disini tersimpan sebuah makna "perbedaan". Mengapa demikian? Positif atau negatif?
         Fakta berbicara, bahwa hal- hal diatas terbukti bisa melejitkan namanya, begitu populer di masyarakat. Kita ambil pelajaran dari sosok guru bangsa, figur yang tidak asing terdengar di kalangan pesantren, K.H. Abdurrahman Wahid. Beliau benar-benar paham betul makna dari perbedaan, banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik dari kehidupan beliau, dalam berbagai bidang. Pribadinya butuh diimplementasikan oleh warga indonesia, khususnya para santri.
        Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia digegerkan oleh wacana penistaan terhadap agama, dengan demo yang berjilid-jilid. Semua mata masyarakat Indonesia tertuju pada wacana ini, sampai-sampai rela meninggalkan semua urusannya, demi tercapainya demonstrasi. Andai saja, gus dur diberikan umur panjang, kita bisa tertawa lepas mendengar komentarnya. Kemungkinan beliau berkata dengan berani di luar "kemainstreaman" masyarakat pada umumnya. Dalam hal ini identitas semua warga negara.
         Sesungguhnya sikap dan tindakannya, jika kita cermati, gus dur berusaha keras mewujudkan kepribadian Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam, yang pada masanya dikagumi oleh semua kalangan penduduk Yatsrib, yang berbeda-beda identitasnya. Pada saat itu, identitas masyarakatnya terdiri dari yahudi: bani quraidah dan bani qinuqah, suku aus dan khazraj, Islam: muhajirin dan anshar, dan terakhir kristen. Semuanya tunduk dalam satu perjanjian, yang dinamakan "konstitusi madinah".
   Mari kita mengingat kembali pesan dari gus dur, "sejarah akan membuktikan!" maksudnya berbagai kontroversi yang terjadi selama masa hidupnya. Marilah berani bertindak kreatif di luar jalur "kemainstreaman", tentunya dengan sebuah sebab yang bisa diterima.
(يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ) 
gulati deweeeekkk!!

Yogyakarta, 8 November 2016.

Comments

Popular posts from this blog

Corpus Coranicum Project

Research project "Corpus coranicum"          Proyek penelitian "corpus coranicum" adalah sebuah upaya para orientalis dalam mengkaji al-Qur'an dengan menggunakan metode kritik historis, yang bertempat di Berlin Brandenburgische Akademie der Wissenschaften di Jerman.        Angelika Neuwirth ditunjuk sebagai direktur proyek. Ia merupakan tokoh orientalis yang membantah argumen Geiger dan Noldeke (tokoh orientalis abad 19), mengatakan bahwa al-Quran tidak lebih hanya karangan Nabi Muhammad dan  salinan teks Pra Islam, yakni Taurat dan Injil. Tentu hal ini sangat kontroversial dan melecehkan umat Islam. Direktur proyek ini menyanggahnya bahwa al-Qur'an merupakan teks independen, sangat berbeda dengan teks sebelumnya yang memiliki ciri khas sendiri dan nilai sastra memukau.        Salah satu program kerja dari penelitian ini diantaranya dengan mendokumentasikan manuskrip quran awal (abad ke-7) dalam bentuk foto d...